Jakarta – Aquaplaning atau hydroplaning tidak hanya dapat terjadi di lintasan balap MotoGP dan hanya mobil kendaraan, Otolovers. Pengendara sepeda motor setiap hari mungkin mengalaminya.

Seperti dikatakan oleh Instruktur dan Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu saat dihubungi oleh detikOto, Kamis (22/11/2018).

Jusri mengatakan, saat kondisi jalan basah genggaman ban bisa dikurangi. Khususnya dalam kecepatan tinggi, daya cengkeram ban dapat menurun secara signifikan. Akibatnya motor kehilangan kontrol dan akibatnya crash.

Selanjutnya, aquaplanning paling sering terjadi di jalan raya atau jalan di mana motor berada pada kecepatan tinggi karena mendapat gaya angkat ketika melewati genangan air.

Sekarang untuk menghindari kejadian ini. Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian para bikers, lihat.

Pertama, menurut Jusri, banyak orang yang belum memperhatikan bahaya saat melintasi genangan air saat hujan deras. Ditambah lagi, dengan kondisi botak atau Threat Wear Indicator (TWI) sudah usang plus profil ban yang tidak memadai saat hujan turun.

"Aquaplaning akan terasa lebih ketika permukaan ban besar, jadi seperti sepeda motor, mobil menggunakan ban tipe radial, tetapi produsen merespon dengan memproduksi tapak ban untuk musim hujan, telapak tangan Ancaman pada ban yang bertujuan untuk memecah air yang memiliki potensi untuk membuat motor atau mobil hydroplaning atau aquaplaning, "kata Jusri.

"Ketika musim hujan mengurangi kecepatan, karena jarak pengereman akan lebih panjang, kemungkinan selip besar," kata Jusri.

"Salah satu slippages besar yang terjadi adalah gejala hydroplaning atau aquaplaning, baik oversteer yang selalu terjadi pada roda belakang, dan hydroplaning umumnya sama dengan understeer, yang merupakan slip yang terjadi pada roda depan," kata Jusri.

Namun perlu diingat, kata Jusri, penyebab selip sepeda motor bukan hanya karena hujan, dan genangan air, tetapi lebih kepada perilaku aman pengendara.

"Tips bijaksana untuk pengendara saat hujan, tidak mempercepat, dan melakukan manuver tajam dan tiba-tiba. Selalu berkomunikasi dengan menyalakan tanda-tanda seperti lampu bahkan di siang hari, sehingga pengendara lain yang mengalami visibilitas berkurang, mereka dapat mendeteksi keberadaan kita dari jauh "Saat mengerem atau kapan Anda ingin berbelok," kata Jusri. (riar / lth)