Jakarta – Toyota Sienta diperkenalkan di Indonesia mulai Agustus 2016 lalu, sebagai mobil impor CBU dari Jepang yang memiliki desain ikonik dan gaya anak muda. Dengan konsep kotak MPV dan pintu geser yang menjadi karakteristik, Toyota Sienta segera menjadi pesaing serius bagi Honda Freed.

Di awal kemunculannya, Sienta memang telah menarik banyak konsumen. Bahkan penjualan bisa di atas 2.000 unit per bulan. Namun, seiring berjalannya waktu, Toyota Astra Motor seperti & # 39; kehabisan bensin & # 39; dan biarkan Sienta hanya menjual ratusan unit per bulan.

Dengan kondisi penjualan yang tidak semegah penampilan awal, apakah Toyota Astra Motor tidak tertarik menghadirkan produk facelift Toyota Sienta? "Saat ini kami juga sedang mempelajari (kemungkinan). Yang harus kami lihat adalah kebutuhan konsumen di segmen ini. Karena keunggulan Sienta ada di pintu geser dan ukuran mobil itu sendiri. Itulah alasan mengapa konsumen membeli Sienta , "kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandi, kepada wartawan di Menteng, Jakarta Pusat.

Di Jepang, Toyota Sienta sebenarnya memiliki versi hybrid. Dan di Indonesia sendiri, hybrid Toyota Sienta masih dalam tahap penelitian. "Hibrida di Jepang sudah ada, tetapi di Indonesia kita masih belajar. Belum ada pabrik di sana. Kita juga pelajari, produknya sudah ada atau belum. Dan apa cocok atau tidaknya kalau dijual di Indonesia," lanjut Anton.

Dan berbicara tentang penggunaan mesin hybrid di segmen menengah, TAM sendiri mengklaim masih berkomunikasi dengan prinsipal. "Kami masih berbicara tentang prinsipal. Kami masih berkomunikasi tentang harga terbaik bagi konsumen, yang berarti lebih terjangkau daripada produk non-hybrid. Kedua, saya pikir peraturan pemerintah dapat membantu membuat harga hibrida lebih terjangkau sekarang," katanya kata.

"Dengan harga yang kompetitif, pangsa hibrida akan meningkat dan membuat transisi bahan bakar yang kami gunakan untuk menggunakan mesin pembakaran, akan maju ke hibrida dengan lancar," pungkasnya. (lua / lth)