Pabrik Nissan di Purwakarta ditutup pada awal 2020 karena penjualan menurun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pasar otomotif Indonesia masih memiliki potensi besar. Ini juga membuat sejumlah merek baru tiba. Di satu sisi, ada produsen yang menunjukkan tren penjualan yang kurang prima. Nissan adalah salah satunya.

Sejak kehadirannya melalui PT Nissan Motor Indonesia (NMI) pada tahun 2001, pabrikan Jepang ini terus menghadapi tantangan dan terus melakukan sejumlah strategi. Buah dari perjuangan itu bisa dicapai pada 2012 dengan total penjualan 67.143 unit.

Tapi, setelah itu penjualan Nissan terus terkikis. Meskipun NMI memperluas grup dengan menghadirkan merek Datsun pada tahun 2014, ternyata angka penjualan tidak dapat dipercepat secara optimal.

Tahun ini, Presiden Direktur NMI, Isao Sekiguchi mengatakan fasilitas produksi di Indonesia telah resmi dihentikan. Pabrik di Purwakarta, Jawa Barat, yang digunakan untuk memproduksi mobil Datsun, secara resmi ditutup pada Januari 2020.

Namun, NMI memastikan bahwa Nissan akan tetap hadir di Indonesia. Penutupan pabrik itu diklaim tidak mempengaruhi penjualan dan layanan Nissan di Indonesia.

"Ini adalah bagian dari rencana optimasi yang mencakup pembenaran, optimasi produksi dan reorganisasi operasi bisnis," kata Isao Sekiguchi.

Mengenai produksi, saat ini hanya satu produk NMI yang diproduksi di Indonesia, yaitu Livina, yang diproduksi melalui fasilitas manufaktur Mitsubishi. Artinya, selain Livina, NMI menghadirkan produk melalui skema impor dari Jepang dan Thailand.

Dia juga memastikan bahwa kolaborasi NMI dengan aliansi bisnisnya, Mitsubishi, masih akan terus memastikan jejak manufaktur Nissan di Indonesia.

"Semua tindakan ini adalah bagian dari reformasi strategis yang telah dirancang untuk membangun basis operasional dengan kepastian profitabilitas yang konsisten dan berkelanjutan dalam jangka menengah. Kami juga akan terus fokus pada penguatan merek Nissan di Indonesia dengan terus menghadirkan model-model baru, " dia berkata.

Dari sini, juga dapat dilihat bahwa meskipun mengalami lika-liku bisnis, NMI berkomitmen untuk terus eksis di Indonesia dengan strategi bisnis yang dianggap lebih tepat. Tidak hanya menjanjikan produk baru, beberapa waktu lalu merek ini juga berkomitmen untuk menjadi merek yang agresif dalam memelopori keberadaan mobil listrik di Indonesia.

Menanggapi seluruh rangkaian strategi yang dilakukan oleh Nissan, Automotive Observer, Bebin Juana menilai bahwa NMI saat ini sedang melakukan langkah efisiensi. Hal ini dapat dilihat dari penutupan fasilitas produksi yang ada dan terkait dengan terus menurunnya volume penjualan.

"Jika ada ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan total penjualan, ini akan berdampak signifikan pada biaya produksi. Suka atau tidak, langkah efisiensi harus diambil dengan menutup fasilitas," kata Bebin.

Mengenai respon pasar, ia melihat bahwa Nissan sebenarnya memiliki cukup banyak penggemar. Namun, lanjutnya, kemungkinan penjualan Nissan dan Datsun akan terus terpangkas karena NMI relatif kurang agresif di hadapan terobosan produk.

Menurutnya, jika ingin bisa bertahan dan tumbuh, NMI tentu perlu melakukan sejumlah strategi dari berbagai aspek. "Setiap keputusan atau strategi juga harus memperhatikan citra merek di mata publik. Ini harus diperhatikan agar tidak kehilangan kepercayaan konsumen dan akan menyebabkan penurunan nilai merek," katanya.

Penjualan Nissan
Mengenai jejak penjualan NMI, rekor penjualan terbaik terjadi pada 2012 dengan posisi keenam dari semua produsen yang terdaftar di Asosiasi Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo). Meski NMI berhasil menduduki peringkat keenam selama tiga tahun berturut-turut, namun NMI terus mengalami penurunan dalam hal total unit yang terjual.

Pada 2013, penjualan Nissan turun menjadi 61.457 unit dan kembali turun pada 2014 menjadi hanya 35.392 unit. Penurunan terus terjadi hingga mencapai titik terendah pada 2018 yang hanya mengantongi penjualan 6.885 unit dan membuat merek ini terlempar di peringkat 11.

Sementara Datsun, yang mulai hadir pada 2014 saja, telah mencapai puncak pencapaian penjualan tahunan sekitar 29 ribu unit. Namun sejak 2016, penjualan juga terus menurun hingga hanya mengantongi penjualan sekitar 7 ribu unit pada 2019.

Dalam hal peringkat penjualan, Datsun juga memiliki nasib yang sama dengan Nissan. Sebab, Datsun juga ada di peringkat keenam meski kemudian juga harus dilempar ke posisi kesebelas.