Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan membahas kewajiban untuk menggunakan fitur Anti-lock Braking System (ABS) untuk semua sepeda motor yang dijual di dalam negeri, termasuk motor down-engine 150 cc.

"Kami memang masih On The Way untuk mewajibkan kendaraan bermotor untuk memiliki ABS. Tapi kami akan ke sana," kata Direktur Pengembangan Keselamatan, Kementerian Perhubungan Indonesia M. Risal Wasal, beberapa waktu lalu.

Meskipun tujuan pemerintah baik, yaitu untuk meminimalkan kecelakaan sepeda motor karena penguncian roda, instruktur keselamatan berkendara memiliki pengamatan yang berbeda.

Menurut instruktur dan pendiri JDDC (Jakarta Defensive Driving Consulting) Jusri Pulubuhu, sepeda motor kecil belum memiliki fitur ABS.

"Meski fungsi ABS untuk keselamatan, menurut saya, pemasangan ABS di motor dengan mesin cc kecil tidak akan signifikan," kata Jusri kepada detikOto via telepon, Senin (19/11/2018).

Menurut Jusri, sepeda motor kecil di Indonesia tidak perlu ABS karena karakter jalan di Indonesia masih berhenti n go. Artinya, pengguna sepeda motor sering melewati kemacetan lalu lintas yang terutama hidup di kota-kota besar, sehingga sepeda motor didorong pada kecepatan rendah dan menengah.

Sementara untuk pengendara yang tinggal di daerah pedesaan, mereka harus menghadapi jalan yang rusak atau tidak rata. Jadi sistem ABS pada motor tidak akan berfungsi maksimal.

Fitur ABS itu sendiri menurut Jusri lebih cocok untuk diterapkan pada motor kapasitas mesin besar, terutama mulai dari 250 cc ke atas.

"ABS sendiri lebih cocok digunakan di motor dengan kapasitas mesin besar. Mulai dari 250 cc ke atas. Karena dari segi bobot dan pengereman momentum, motor besar perlu lebih banyak fitur yang mencegah roda dari penguncian," pungkas Jusri. (lua / lth)