Jakarta –

Pemerintah memang telah mengizinkan angkutan umum untuk beroperasi kembali meskipun bukan untuk pelancong, seperti yang tertulis dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Nomor SE.9 / AJ.201 / DRJD / 2020 tentang Pengaturan untuk Implementasi Transportasi Darat selama Dilarang Periode Idul Fitri 1441 Hijriah dalam Pencegahan Penyebaran Penyakit Virus Corona 2019 (COVID-19). Surat ini mulai berlaku dari 8 Mei 2020 hingga 31 Mei 2020.

Namun, angkutan umum diizinkan untuk lewat secara khusus untuk pekerja yang bekerja di lembaga pemerintah atau swasta yang menyediakan layanan akselerasi untuk menangani COVID-19.

Perjalanan menggunakan transportasi umum juga diperbolehkan untuk pasien yang membutuhkan layanan kesehatan darurat, atau perjalanan untuk orang-orang yang anggota keluarga inti (orang tua, suami / istri, anak-anak, saudara kandung) sakit parah atau meninggal.

Selain itu angkutan umum juga diperbolehkan untuk memulangkan Pekerja Migran Indonesia (PMI), warga negara Indonesia, dan pelajar / pelajar yang berada di luar negeri, dan pemulangan orang dengan alasan khusus oleh Pemerintah ke darah asal, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Namun sayangnya saat ini masih banyak mudik yang mencapai kampung halamannya meski sudah dilarang. Sebagai pengamat transportasi, kata Djoko Setijowarno.

Djoko melihat bahwa masih ada banyak homecomer yang datang ke kota asalnya, karena ada banyak kendaraan umum dengan alias hitam yang masih belum beroperasi secara resmi menggunakan & # 39; rat & # 39; baris.

"Saat ini, arus uang mudik mengalir ke pengusaha angkutan pelat hitam," kata Djoko.

(Data wisatawan naik di Jawa Tengah-Halaman 2)