Jakarta –

Kendaraan bermotor konvensional sekarang dianggap sebagai salah satu penyumbang polusi udara terbesar. Untuk mengurangi emisi karbon, orang diminta beralih dari menggunakan kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Saat ini angkutan umum memiliki berbagai macam. Bahkan di era teknologi seperti sekarang ini, taksi online marak digunakan. Namun, keberadaan taksi online dianggap membawa masalah baru.

Reuters melaporkan, sebuah laporan baru-baru ini mengatakan layanan taksi online sebenarnya meningkatkan emisi karbon. Sebuah laporan dari Union of Concerned Scientists, sebuah kelompok advokasi nirlaba di Amerika Serikat, mengatakan perusahaan taksi online seperti Uber dan Lyft harus menggunakan kendaraan listrik untuk mengurangi emisi karbon.

Beberapa penelitian selama dua tahun terakhir menunjukkan bahwa taksi online dapat menambah kemacetan kota. Masalahnya, akan ada lebih sedikit orang menggunakan transportasi massal dan tidak ada penurunan kepemilikan mobil pribadi.

Dengan kendaraan yang beroperasi siang dan malam, analisis dari Union of Concerned Scientists menemukan bahwa bepergian menggunakan taksi online sekarang lebih mencemari.

Ada beberapa alasan. Salah satunya adalah fenomena yang dikenal sebagai deadheading, yaitu ketika taksi online didorong tanpa penumpang.

"Ini sering terjadi ketika setelah membawa penumpang A ke bandara dan menjemput penumpang B yang mungkin beberapa mil jauhnya. Akibatnya, perjalanan taksi online tanpa penumpang menghasilkan emisi karbon hampir 50% lebih banyak daripada perjalanan yang sama dengan mobil pribadi, "kata Persatuan Ilmuwan Peduli di situs webnya.

Oleh karena itu, Persatuan Ilmuwan Peduli menyarankan agar perusahaan taksi online mulai beralih ke kendaraan ramah lingkungan seperti mobil listrik. Union of Concerned Scientists menyimpulkan, taksi online dengan armada mobil listrik akan mengurangi emisi sekitar 50% dibandingkan dengan bepergian dengan kendaraan pribadi.

Lihat video "Kualitas Udara Lebih Buruk di Bosnia"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr / din)